Perumpamaan kereta, pronomina persona pertama, dan pintasan spiritual
"Dari pengalaman SAYA selama bermeditasi," ucapnya. Seseorang yang ditunjuk sebagai pemandu meditasi itu menjelaskan pengalaman meditasinya sebagai rujukan dalam penyampaian pengajarannya. Tidak ada yang salah dari kalimatnya, karena memang penggunaan pronomina persona pertama tidak serta merta mengimplikasikan eksistensi pelekatan pada entitas jati diri. Kamu mungkin berpikir, "Lho, kenapa tiba-tiba jadi pelekatan pada entitas jati diri?"
Dalam konsep semadi yang dikenalkan melalui sasana Buddha, pada akhirnya, pelatihan semadi senantiasa menuju pada apa yang dinamakan "semadi pandangan terang" (vipassanā), yang juga disebut sebagai semadi wawasan (insight). Pada model semadi yang demikian, batin diarahkan untuk mendapatkan wawasan bahwa fenomena-fenomena, baik jasmaniah maupun batiniah, merupakan hal ihwal yang bersifat duka (tidak nyaman), fana, dan tanpa jati diri. Dari sini, saya menekankan poin ketiga mengenai "tanpa jati diri," bahwa kumpulan atau tumpukan yang dalam keseharian dipersepsikan sebagai suatu "jati diri," sebagai "aku, saya, milikku," sebenarnya tidak benar-benar berdiri sendiri, atau sering dibilang kosong. Artinya, "jati diri" tersebut tidak lain merupakan lima gugusan yang saling bergantung, bahwa sebenarnya apa yang dinamakan "jati diri" itu bukan merupakan entitas yang bisa dibidik secara langsung.
Bagian 1: Perumpamaan kereta
Mungkin terasa rumit bagi seseorang untuk membayangkan maksud dari "tanpa jati diri" yang diajarkan oleh Buddha Gotama. "Apa maksudnya jati diri? Kenapa Buddha begitu persisten dengan pendirian-Nya?" Oleh karena itu, berbagai perumpamaan diberikan dalam Kanon Pali, kitab suci kanonik dalam Buddhisme Theravāda (aliran tertua Buddhisme yang masih bertahan hingga hari ini). Salah satu perumpamaan yang umum digunakan adalah perumpamaan "kereta" dalam Vajira Sutta (SN 5.10) dan kitab komentar (aṭṭhakathā) terkait:

Atha kho māro pāpimā vajirāya bhikkhuniyā bhayaṁ chambhitattaṁ lomahaṁsaṁ uppādetukāmo samādhimhā cāvetukāmo yena vajirā bhikkhunī tenupasaṅkami; upasaṅkamitvā vajiraṁ bhikkhuniṁ gāthāya ajjhabhāsi:
Kemudian Māra si Jahat, ingin menakuti, menimbulkan kegentaran, dan meneror Bhikkhunī Vajirā, ingin membuatnya jatuh dari konsentrasi, mendekatinya dan berkata kepadanya dalam syair:
“Kenāyaṁ pakato satto, kuvaṁ sattassa kārako; Kuvaṁ satto samuppanno, kuvaṁ satto nirujjhatī”ti.
“Oleh siapakah makhluk ini diciptakan? Di manakah pencipta makhluk ini? Di manakah makhluk ini muncul? Di manakah makhluk ini lenyap?”
Atha kho vajirāya bhikkhuniyā etadahosi: “ko nu khvāyaṁ manusso vā amanusso vā gāthaṁ bhāsatī”ti?
Kemudian Bhikkhunī Vajirā berpikir: “Siapakah yang mengucapkan syair itu, seorang manusia ataukah bukan manusia?”
Atha kho vajirāya bhikkhuniyā etadahosi: “māro kho ayaṁ pāpimā mama bhayaṁ chambhitattaṁ lomahaṁsaṁ uppādetukāmo samādhimhā cāvetukāmo gāthaṁ bhāsatī”ti.
Kemudian ia berpikir: “Ini adalah Māra si Jahat, yang telah mengucapkan syair ini dengan niat untuk menakuti, menimbulkan kegentaran, dan menerorku, berniat menjatuhkanku dari konsentrasi.”
Atha kho vajirā bhikkhunī “māro ayaṁ pāpimā” iti viditvā, māraṁ pāpimantaṁ gāthāhi paccabhāsi:
Kemudian Bhikkhunī Vajirā, setelah memahami, “Ini adalah Māra si Jahat,” menjawab dalam syair-syair berikut:
“Kiṁ nu sattoti paccesi, māra diṭṭhigataṁ nu te; Suddhasaṅkhārapuñjoyaṁ, nayidha sattupalabbhati.
“Mengapa sekarang engkau menganggap ada ‘makhluk’? Māra, apakah itu adalah pandangan spekulatifmu? Ini bukan lain hanyalah timbunan bentukan-bentukan: Tidak ada makhluk di sini.
Yathā hi aṅgasambhārā, hoti saddo ratho iti; Evaṁ khandhesu santesu, hoti sattoti sammuti.
“Bagaikan, dengan merangkai bagian demi bagian, Kata ‘kereta’ digunakan, Demikian pula, ketika kelompok-kelompok unsur kehidupan (gugusan-gugusan) muncul, Ada konvensi ‘makhluk’.
Dukkhameva hi sambhoti, dukkhaṁ tiṭṭhati veti ca; Nāññatra dukkhā sambhoti, nāññaṁ dukkhā nirujjhatī”ti.
“Itu hanyalah penderitaan yang menjelma, Penderitaan yang berlangsung dan lenyap. Bukan lain hanyalah penderitaan yang muncul, Bukan lain hanyalah penderitaan yang lenyap.”
Atha kho māro pāpimā “jānāti maṁ vajirā bhikkhunī”ti dukkhī dummano tatthevantaradhāyīti.
Kemudian Māra si Jahat, menyadari, “Bhikkhunī Vajirā mengenaliku,” merasa sedih dan kecewa, lenyap dari sana.
Kitab komentar/tafsiran (aṭṭhakathā) dari kutipan diskursus tersebut menjelaskan demikian:
Dasame nayidha sattupalabbhatīti imasmiṃ suddhasaṅkhārapuñje paramatthato satto nāma na upalabbhati.
Pada bagian kesepuluh, mengenai kalimat “tidak ada makhluk di sini” (nayidha sattupalabbhati): dalam timbunan murni bentukan-bentukan ini, secara makna mutlak/hakiki (paramattha), apa yang disebut sebagai “makhluk” tidak dapat ditemukan.
Khandhesu santesūti pañcasu khandhesu vijjamānesu tena tenākārena vavatthitesu.
Mengenai kalimat “ketika gugusan-gugusan ada” (khandhesu santesu): yaitu ketika lima gugusan (pañcakkhandha) ada, yang ditetapkan melalui berbagai ciri tersebut.
Sammutīti sattoti samaññāmattameva hoti.
Mengenai kata “konvensi” (sammuti): sebutan sebagai “makhluk” hanyalah sekadar nama umum saja.
Dukkhanti pañcakkhandhadukkhaṃ.
Mengenai kata “penderitaan” (dukkha): yang dimaksud adalah penderitaan dari lima gugusan.
Nāññatra dukkhāti ṭhapetvā dukkhaṃ añño neva sambhoti na nirujjhatīti.
Mengenai kalimat “tidak ada selain penderitaan” (nāññatra dukkhā): selain penderitaan, tidak ada hal lain yang muncul maupun lenyap.
Dasamaṃ.
Bagian kesepuluh selesai.
Singkatnya, kutipan ayat di atas menjelaskan kejadian ketika sesosok Māra ("Iblis" dalam kosmologi Buddhis) mendatangi seorang bikuni bernama Vajirā. Ia berspekulasi tentang penciptaan dan pelenyapan makhluk-makhluk. Dengan tidak terjebak pada pertanyaan tersebut, Vajirā menjawabnya dengan terampil, yakni dengan menjelaskan bahwa sesungguhnya tidak ada apa yang disebut "makhluk" secara hakiki. Untuk memperjelas, dalam tingkatan "kebenaran" sasana Buddha, terdapat dua jenis:
- Kebenaran hakiki/mutlak (paramattha): ini adalah kebenaran yang tertinggi, ketika sesuatu sudah diurai sebagai komponen penyusunnya.
- Kebenaran konvensional (sammuti): ini adalah kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita menggunakan istilah-istilah konsep yang telah disepakati untuk memahami sesuatu.
Raja Milinda mendatangi Bhikkhu Nāgasena, setelah bertukar sapa dengan hangat dan sopan, dia duduk di satu sisi dengan penuh hormat. Kemudian Raja Milinda mulai bertanya:
"Dengan sebutan apa Yang Mulia dikenal, dan siapa nama Anda, Yang Mulia?"
"Wahai Raja, saya dikenal sebagai Nāgasena, tetapi itu hanyalah sebutan secara umum, karena tidak ada individu yang dapat ditemukan."
Raja Milinda kemudian memanggil orang-orang Baktria Yunani dan para biku untuk bersaksi, "Bhikkhu Nāgasena ini mengatakan bahwa tidak ada individu yang tersirat dalam namanya. Mungkinkah ini dapat dibuktikan?"
Lalu raja berpaling ke Nāgasena dan berkata, "Yang Mulia Nāgasena, jika benar demikian, siapakah yang memberikan jubah, makanan, dan tempat tinggal kepadamu? Siapa yang menjalankan kehidupan yang benar? Atau, siapa yang membunuh makhluk hidup, mencuri, berzinah, berbohong, atau yang minum minuman keras? Bila apa yang Anda katakan adalah benar, tidak ada yang terpuji, tidak ada pula yang tercela, tidak ada orang yang melakukan perbuatan baik maupun buruk, dan tidak ada buah dari kamma. Yang Mulia, kalau begitu, yang membunuh Anda, berarti tidak ada pembunuh, dan begitu juga dalam Sangha tidak ada guru. Anda mengatakan Anda disebut Nāgasena; kalau begitu Nāgasena, apakah itu? Apakah Nāgasena itu rambut?"
"Wahai Raja, saya tidak mengatakan demikian."
"Kalau begitu, apakah Nāgasena itu kuku, gigi, kulit, atau bagian lain dari tubuh?"
"Sudah pasti bukan!"
"Atau Nāgasena itu adalah tubuh, atau perasaan, atau persepsi, atau formasi-formasi, atau kesadaran? Apakah Nāgasena itu adalah gabungan dari itu semua? Ataukah yang di luar semua itu adalah Nāgasena?"
Nāgasena menjawab, "Bukan satu pun dari yang baginda sebutkan."
"Lalu, bisakah saya mengatakan, saya tidak menemukan Nāgasena. Nāgasena itu hanyalah sesuatu yang kosong. Jadi, siapa ini yang berdiri di hadapan kami? Semua adalah suatu kebohongan dari apa yang Anda katakan."
"Baginda, Anda dibesarkan dengan segala kemewahan dalam kehidupan keluarga kerajaan. Bagaimanakah Anda datang ke sini, berjalan kaki atau berkendara?"
"Mengendarai kereta, Nāgasena."
"Lalu, mohon jelaskan Baginda, kereta itu apa? Apakah jari-jari roda? Atau roda, atau kerangka, atau tali kendali, atau kuk yang disebut kereta? Apakah kereta adalah gabungan dari ini semua, ataukah sesuatu yang terpisah dari mereka?"
"Bukan semua itu, Nāgasena."
"Kalau begitu, Baginda, kereta ini sesuatu yang kosong. Anda berbohong mengatakan bahwa Anda datang ke sini dengan mengendarai kereta. Anda adalah seorang raja yang agung di India. Siapa yang membuat Anda takut untuk mengatakan hal yang sesungguhnya?"
Kemudian Yang Mulia Nāgasena memanggil orang-orang Baktria Yunani dan para biku untuk menjadi saksi, "Tadi Raja Milinda mengatakan bahwa beliau ke sini dengan mengendarai kereta, tetapi saat ditanyakan kereta itu apa, beliau tidak sanggup menunjukkannya. Bisakah kita menerimanya?"
Lalu, lima ratus orang Baktria Yunani berseru setuju dan berkata kepada raja, "Ayolah Baginda, jawablah!"
"Yang Mulia, saya telah mengatakan yang sebenarnya. Karena terbuat dari semua bagian inilah, ia disebut kereta."
"Bagus sekali, baginda telah menangkap artinya. Begitu jugalah karena adanya 32 jenis materi organik dalam tubuh manusia dan lima gugusan kehidupan, jadilah saya dipanggil sebagai 'Nāgasena'. Seperti yang dikatakan oleh Bhikkhunī Vajirā di hadapan Begawan, 'Seperti adanya berbagai bagian, maka kata "kereta" digunakan', demikian juga saat adanya gugusan kehidupan, maka di situlah kita katakan adanya satu makhluk hidup."
"Luar biasa, Nāgasena, sungguh luar biasa Anda telah memecahkan teka-teki yang sulit ini. Seandainya Buddha ada di sini, Buddha juga akan setuju dengan jawaban Anda."
Bagian 2: Pronomina persona pertama
“Jika seorang biku adalah seorang arahat,Sempurna, dengan noda-noda dihancurkan,Seseorang yang membawa jasmani terakhirnya,Akankah ia masih mengatakan, ‘Aku berkata’?Dan akankah ia berkata, ‘Mereka berkata kepadaku’?”“Jika seorang biku adalah seorang arahat,Sempurna, dengan noda-noda dihancurkan,Seseorang yang membawa jasmani terakhirnya,Ia mungkin masih mengatakan, ‘Aku berkata’,Dan ia mungkin berkata, ‘Mereka berkata kepadaku.’Terampil, mengetahui bahasa duniawi,Ia menggunakan kata-kata demikian hanya sekadar ungkapan.”“Jika seorang biku adalah seorang arahat,Sempurna, dengan noda-noda dihancurkan,Seseorang yang membawa jasmani terakhirnya,Apakah karena keangkuhanMaka ia berkata, ‘Aku berkata,’Maka ia berkata, ‘Mereka berkata kepadaku’?”“Tidak ada simpul pada seseorang yang keangkuhannya telah ditinggalkan;Baginya semua simpul keangkuhan telah habis.Walaupun yang bijaksana telah melampaui anggapan,Ia juga mungkin masih berkata, ‘Aku berkata,’Ia juga mungkin masih berkata, ‘Mereka berkata kepadaku.’Terampil, mengetahui bahasa duniawi,Ia menggunakan kata-kata demikian hanya sekadar ungkapan.”
Pañcame katāvīti catūhi maggehi katakicco.
Pada (sutta) kelima, kata 'katāvī' (sempurna/telah berbuat) bermakna ia yang telah menyelesaikan tugas melalui empat jalan.
Ahaṃ vadāmīti ayaṃ devatā vanasaṇḍavāsinī, sā āraññakānaṃ bhikkhūnaṃ "ahaṃ bhuñjāmi, ahaṃ nisīdāmi, mama patto, mama cīvara"ntiādikathāvohāraṃ sutvā cintesi – "ahaṃ ime bhikkhū ‘khīṇāsavā’ti maññāmi, khīṇāsavānañca nāma evarūpā attupaladdhinissitakathā hoti, na hoti nu kho"ti jānanatthaṃ evaṃ pucchati.
Mengenai 'ahaṃ vadāmi' (aku berkata), dewata ini adalah penghuni hutan. Setelah mendengar ucapan sehari-hari para biku hutan seperti "aku makan, aku duduk, mangkukku, jubahku" dan sebagainya, ia berpikir: "Aku menganggap para biku ini sebagai 'khīṇāsava' (mereka yang noda-nodanya telah dihancurkan), namun apakah para khīṇāsava memang memiliki ucapan yang didasarkan pada persepsi diri (atta) semacam ini, ataukah tidak?" Demi mengetahui hal inilah ia bertanya demikian.
Sāmaññanti lokaniruttiṃ lokavohāraṃ.
'Sāmaññan' (bahasa duniawi) berarti ungkapan duniawi atau kelaziman dunia.
Kusaloti khandhādīsu kusalo.
'Kusalo' (terampil) berarti terampil dalam hal gugusan (khandha) dan sebagainya.
Vohāramattenāti upaladdhinissitakathaṃ hitvā vohārabhedaṃ akaronto "ahaṃ, mamā"ti vadeyya.
'Vohāramattena' (hanya sekadar ungkapan) berarti setelah meninggalkan ucapan yang didasarkan pada persepsi diri, ia mengucapkan "aku, milikku" agar tidak merusak kelaziman ucapan.
"Khandhā bhuñjanti, khandhā nisīdanti, khandhānaṃ patto, khandhānaṃ cīvara"nti hi vutte vohārabhedo hoti, na koci jānāti.
Sebab jika dikatakan "gugusan yang makan, gugusan yang duduk, mangkuknya gugusan, jubahnya gugusan", maka terjadi kerancuan kelaziman ucapan, (dan) tidak ada yang mengerti.
Tasmā evaṃ avatvā lokavohārena voharatīti.
Oleh karena itu, tanpa berkata demikian, ia berbicara menggunakan bahasa duniawi (lokavohāra).
Atha devatā – "yadi diṭṭhiyā vasena na vadati, mānavasena nu kho vadatī"ti cintetvā puna yo hotīti pucchi.
Kemudian dewata itu berpikir, "Jika ia tidak berkata berdasarkan pandangan salah (diṭṭhi), apakah ia berkata berdasarkan keangkuhan/kesombongan (māna)?" lalu bertanya lagi (dengan ayat) 'yo hoti' (ia yang...).
Tattha mānaṃ nu khoti so bhikkhu mānaṃ upagantvā mānavasena vadeyya nu khoti.
Di situ, (frasa) 'mānaṃ nu kho' (apakah karena keangkuhan?) maksudnya adalah apakah biku itu memunculkan keangkuhan dan berkata karena didorong keangkuhan?
Atha bhagavā – "ayaṃ devatā khīṇāsavaṃ samānaṃ viya karotī"ti cintetvā, "khīṇāsavassa navavidhopi māno pahīno"ti dassento paṭigāthaṃ āha.
Maka Sang Begawan berpikir, "Dewata ini menganggap seorang khīṇāsava sama (seperti orang biasa yang memiliki kekotoran batin)," dan untuk menunjukkan bahwa "bagi seorang khīṇāsava, sembilan jenis keangkuhan pun telah ditinggalkan," Beliau mengucapkan syair balasan.
Tattha vidhūpitāti vidhamitā.
Di situ, 'vidhūpitā' (habis/diasapi) berarti dimusnahkan.
Mānaganthassāti mānā ca ganthā ca assa.
'Mānaganthassa' (simpul keangkuhan) berarti keangkuhan-keangkuhan dan simpul-simpul (dalam dirinya).
Maññatanti maññanaṃ.
'Maññataṃ' berarti anggapan.
Tividhampi taṇhā-diṭṭhi-māna-maññanaṃ so vītivatto, atikkantoti attho.
Ia telah melampaui tiga jenis anggapan (maññana), yaitu (anggapan yang didasari) nafsu keinginan, pandangan salah, dan keangkuhan; 'atikkanto' (melampaui) adalah maknanya.
Sesaṃ uttānatthamevāti. Pañcamaṃ.
Selebihnya maknanya sudah jelas. (Sutta) kelima (selesai).
Secara soteriologis, keselamatan dalam konteks Kanon Pali dibagi dalam empat tingkatan, yang umum disebut sebagai "Empat Tataran Realisasi", "Empat Tingkat Kesucian", atau "Empat Tingkat Kemuliaan". Keempat tingkatan ini memiliki realisasinya masing-masing, sebagaimana dijelaskan dalam diskursus-diskursus terkait. Berikut ini tabel belenggu-belenggu yang telah disingkirkan oleh setiap pencapai tingkat realisasi:
(Lihat AN 10.13; DN 6; MN 22; MN 70)
Bagi seseorang yang telah mencapai tingkat sotāpanna, dikatakan bahwa belenggu pandangan salah terhadap jati diri sudah dilenyapkan. Oleh karena itu, sudah tidak ada lagi pandangan-pandangan yang menganggap bahwa ada roh atau atma dalam lima gugusan dan seterusnya:
- Menganggap gugusan sebagai atma
- Menganggap atma yang memiliki gugusan
- Menganggap gugusan berada di dalam atma
- Menganggap atma berada di dalam gugusan
Lima gugusan didefinisikan sebagai kumpulan materi (rūpa), kesadaran (viññāṇa), persepsi (saññā), perasaan (vedanā), dan formasi-formasi batiniah (saṅkhārā). Yang menarik di sini adalah tataran pertama tersebut tidak serta-merta turut menyingkirkan kesombongan/keangkuhan (māna). Oleh karenanya, keakuan-keakuan "halus" tertentu masih tetap ada, meskipun sudah tidak mengimani keyakinan bahwa ada roh kekal yang mendiami tubuh dan seterusnya. Tataran yang sudah sepenuhnya menyingkirkan sepuluh belenggu yang diidentifikasi adalah arahat, sebagaimana sudah dijelaskan dalam berbagai kitab tafsiran yang disertakan di sini sebelumnya.
Menariknya, apa yang dirumuskan ribuan tahun lalu lewat hasil semadi seorang pemuda asal Nepal tersebut kini mulai terkonfirmasi oleh pemindaian otak modern. Dalam kacamata neurosains modern, gagasan tanpa-roh ini selaras dengan penemuan terkini. Bahasan-bahasan terkait ini ada dalam The Ego Tunnel (Thomas Metzinger), The Left Brain Interpreter (Michael Gazzaniga), Default Mode Network (Judson Brewer), dan Controlled Hallucination (Anil Seth). Topik terkait diistilahkan dengan self-illusion, phenomenal self-model, dan deactivation of DMN. Sebagai tambahan, video Anil Seth ini juga menarik untuk disimak. Video ini relevan karena Anil Seth menjelaskan secara visual dan sederhana bagaimana "realitas" dan "diri" yang dirasakan seseorang sebenarnya adalah konstruksi aktif (halusinasi) dari otak, bukan cerminan pasif dari dunia nyata, yang mendukung konsep anattā bahwa diri bukanlah entitas yang tetap.
Baiklah. Kembali ke ucapan di awal postingan tadi, "Dari pengalaman SAYA selama bermeditasi," siapa yang tahu apakah seseorang sudah benar-benar mencapai tingkatan tertentu, entah itu sotāpanna atau bahkan arahat? Bahwa sesungguhnya niat di balik ucapan yang dituturkan sudah sama sekali tidak didasari pada pandangan salah atas jati diri (bagi sotāpanna) atau bahkan keangkuhan (bagi arahat)? Hanya sekadar ungkapan, atau tidak "hanya sekadar"?
Bagian 3: Pintasan spiritual
Pada tahun 1980-an istilah spiritual bypassing, yang saya terjemahkan sebagai pintasan spiritual di sini, diperkenalkan oleh John Welwood, seorang guru dan psikoterapis Buddhis. Istilah ini dibentuk setelah ia menyadari bahwa sebagian orang, dengan mengandalkan spiritualitas untuk menghindari emosi atau tantangan yang sulit atau menyakitkan, cenderung menekan aspek identitas dan kebutuhan mereka serta menghambat perkembangan emosional mereka. Dalam hal ini, orang-orang tersebut tidak menyadari emosi sebagaimana adanya. Lebih lanjut, mereka menekan emosi-emosi yang muncul.
Menarik bahwa dalam hal "tataran realisasi" secara soteriologis Buddhis, penyematan label pencapaian tidak berarti seseorang betul-betul telah mencapai tataran terkait, dan hal ini juga jadi perhatian khusus dalam tradisi kitabiah yang terus dilestarikan. Misalnya, aturan Bu Pj 4 bagi kaum monastik secara spesifik mengatur kasus terkait, dengan hukuman pengusiran dari komunitas monastik.
‘Jika seorang bhikkhu secara tidak benar mengaku untuk dirinya, kualitas melampaui manusia, pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia, dengan mengatakan, “Aku mengetahui ini, aku melihat ini,” tetapi beberapa lama kemudian—apakah ditanya atau tidak, tetapi setelah melakukan pelanggaran dan mencari pemurnian—harus mengatakan: “Tidak mengetahui aku mengatakan bahwa aku mengetahui, tidak melihat aku mengatakan bahwa aku melihat; apa yang kukatakan adalah kosong dan dusta,” maka, kecuali jika itu adalah karena menilai terlalu tinggi, ia juga diusir dan dikeluarkan dari komunitas.’”
Ditarik kembali ke pintasan spiritual, pernyataan bahwa seseorang telah menyingkirkan poin-poin yang digolongkan sebagai belenggu-belenggu sebagaimana telah disinggung sebelumnya, menurut saya, juga memiliki potensi masalahnya sendiri. Alih-alih benar-benar mencapai suatu tataran, seseorang bisa saja mengaku-aku sudah mencapainya meskipun dalam arus batinnya masih ada kemungkinan untuk memunculkan belenggu-belenggu tersebut, yang tentu karena sebab-sebab pengondisinya masih di sana. Maksudnya?
Untuk menjelaskannya, saya hendak mengambil contoh budaya "menangis saat berduka" yang kerap dianggap sangat tabu dalam beberapa budaya. Sering kali, budaya semacam ini juga berakar kuat dari sistem kepercayaan yang dianut masyarakat yang melestarikannya. Saya berhipotesis (menduga) bahwa sasana Buddha turut andil dalam melestarikan budaya semacam itu. Meski demikian, sebenarnya yang dimaksudkan Buddha tidak sesederhana apa yang diinstruksikan oleh para pelestari budaya tersebut. Dalam hal "menangis saat berduka," umum ditemui instruksi semacam "jangan menangis, nanti menyusahkan yang meninggal." Padahal, sebab-sebab yang mengondisikan tangisan tersebut masih ada di sana. Pendekatan Buddha tidak pernah "paksa jangan menangis," tetapi lebih kepada "jika menangis, sadari ada tangis, ada tangis." Buddha tidak mengajarkan murid-Nya untuk mengamalkan jalan pintas emosional. Jika memang keadaan batin seseorang masih memungkinkannya untuk sedih dengan intensitas yang sangat kuat, atau bahkan sampai mengarah pada kondisi-kondisi mental akut tertentu, Buddha menyarankan untuk menyadarinya dengan tidak melekatkannya sebagai suatu identitas. Bahwa "ada tangisan, ada rasa sedih," tetapi bukan "saya menangis, saya sedih."
Contoh di atas juga bisa diterapkan pada spiritual bypassing yang telah dibahas. Seseorang sangat mungkin menghambat perkembangan emosionalnya semata-mata karena memaksa diri untuk tidak mengalami emosi-emosi tertentu, padahal sebab-sebabnya masih di sana. Bagaikan seseorang yang menanam benih mangga, disiram setiap hari, diberi pupuk, tentu pada akhirnya akan mendapatkan buah mangga. Ketika buah mangga sudah di tangan, bersikeras menganggap bahwa buah tersebut bukanlah buah mangga bukanlah tanggapan yang bijak. Begitu juga halnya dengan berbagai emosi yang muncul.
Jika diperluas ke arah tataran realisasi, seseorang bisa saja menganggap bahwa keangkuhan dan belenggu-belenggu lain tertentu sudah tidak pernah ada lagi di batinnya sendiri, tetapi sebenarnya masih ada. Inilah yang, menurut saya, juga berbahaya. Namun, hal semacam ini juga tidak luput dari pandangan-Nya, sebagaimana penjelasan yang dapat ditemukan dalam berbagai diskursus terkait pemeriksaan batin sendiri:
- SN 55.8 mengenalkan prosedur "cermin Dhamma" (dhammādāsa), yang dapat dilakukan dengan menginvestigasi batin sendiri
- MN 112 mengenalkan panduan interogasi para arahat, yang dapat digunakan untuk menguji apakah seseorang betul-betul sudah arahat
- MN 47 juga mengajarkan tata cara investigasi/observasi perilaku jangka panjang
- MN 149 mengenalkan metode percakapan yang menjadi topik bahasan preferensi, dengan ajakan untuk mengobrol terkait Dhamma
- AN 4.192 menjabarkan panduan Buddha kepada Raja Pasenadi (yang saat itu sedang bingung melihat petapa-petapa yang sedang lewat) bahwa kita tidak bisa menilai kesucian orang hanya dari tampak luar atau pertemuan sekilas, yang berhubungan dengan bahasan dalam SN 3.11
"Dengan batinnya sendiri, ia menembus dan mengetahui batin makhluk-makhluk lain... Ia mengetahui batin yang bernafsu sebagai batin yang bernafsu, batin yang bebas dari nafsu sebagai batin yang bebas dari nafsu... batin yang terbebaskan sebagai batin yang terbebaskan."
Sekarang, bayangkan seorang ahli kripto memperhatikan orang-orang karbitan yang nampak bermain-main dalam bidang tersebut, yang hanya bergantung pada para influencer dalam memilih aset-aset yang hendak mereka kelola. Tanpa perenungan, tanpa pertimbangan, hanya pure vibes, sepenuhnya percaya secara membuta saja. Bukankah akan terasa sangat jelas perbedaannya? Begitu juga bagi mereka yang menguasai berbagai bidang lain. Dengan proses yang serupa, saya rasa orang-orang tertentu juga bisa melakukan vibe checking terhadap orang-orang yang mengambil "jalan pintas spiritual." Penilaian semacam ini tidak hanya sekadar penilaian yang didasarkan pada kata-kata yang keluar dari mulut seseorang, tetapi jauh lebih dari itu. Ada berbagai faktor yang tampaknya tidak begitu jelas yang turut memengaruhi proses vibe checking tersebut.
Dalam konteks meditasi dan pencapaian spiritual yang terkait dengan meditasi, ada saja orang yang sering kali memamerkannya. Namun, bagi mereka yang juga sama-sama meraih hal yang serupa, bahkan lebih tinggi, saya rasa, justru lebih berhati-hati dalam memamerkannya. Memangnya pencapaian apa sih yang dipamerkan itu? Tentu, semacam pencapaian nimitta ini, jhāna itu. Bisa saja seseorang memang benar-benar telah mencapainya. Akan tetapi, saya rasa, jika orang terkait benar-benar berkembang lebih lanjut, tindakan semacam itu akan segera ditinggalkan. Lain hal jika memang yang bersangkutan berputar-putar atau bahkan mundur dari pencapaian meditatifnya itu.
Sembari menulis ini, saya mengingat kembali Dunning-Kruger Effect. Saya sadar penuh bahwa Dunning-Kruger Effect telah mendapat banyak kritikan, bahkan sampai taraf sanggahan yang sepenuhnya menihilkan efek tersebut. Seperti riset oleh Gignac dan Zajenkowski (2020) yang diterbitkan di Intelligence, yang menjelaskan bahwa jika seseorang meniadakan bias statistik, efek DK hampir hilang total. Mereka menyimpulkan bahwa fenomena DK hanya kombinasi dari "Better-Than-Average Effect" (semua orang merasa pintar) dan Regression to the Mean. Sejak 2002, Krueger dan Mueller juga sudah pernah menyimpulkan bahwa "Dunning-Kruger salah menginterpretasikan data." Hal ini karena orang yang performanya buruk memang sering salah menilai dirinya sendiri, tetapi orang yang performanya bagus juga sering salah menilai diri mereka sendiri. Tingkat kesalahannya sebenernya mirip, cuma arahnya saja yang beda. Intinya, fenomena sok pro benar-benar ada, tetapi bukan karena orang yang sok pro tersebut tidak sadar bahwa mereka bodoh, melainkan karena statistik dan overconfidence yang memang wajar pada semua manusia. Hingga saat ini, efek ini pun masih jadi perbincangan hangat di antara berbagai debat ilmiah.
Alih-alih DK Effect, saya lebih tertarik dengan penjelasan Socratic paradox, si ungkapan klasik "I know that I know nothing." Bahwa semakin luas pengetahuan yang dimiliki dalam suatu bidang, maka semakin seseorang sadar bahwa bidang yang digelutinya itu begitu kompleks. Kompleksitas itu tidak tiba-tiba ada, tetapi memang sudah ada. Hanya saja, memang semakin ahli dalam bidangnya, semakin mungkin seseorang menyadarinya, hingga semakin lambat laun merasa bahwa luas jurang ketidaktahuan yang dimiliki juga turut meluas. Terkait dengannya, saya juga suka dengan konsep Curse of Knowledge (Kutukan Pengetahuan) dalam konteks komunikasi. Ketika seseorang sudah ahli dalam suatu bidang, tinggi kemungkinannya untuk susah menjelaskan sesuatu dengan sederhana, terlebih untuk membuat suatu statement yang tegas (hitam-putih). Ini terjadi karena sense dalam kepala sudah penuh dengan "nuansa", "konteks", dan "pengecualian" dari bahasan terkait. Sudah sulit rupanya untuk secara rigid menjelaskan bahwa "A adalah B" dengan mudah karena banyak pertimbangan-pertimbangan yang sudah turut diselidiki. Bias kognitif dari Curse of Knowledge membuat seseorang lupa bahwa yang diketahuinya sudah beda level. Oleh karenanya, Feynman menantangnya dengan teknik "If you can't explain it simply, you don't understand it well enough." Untuk kemudian mengupas intisari dari kerumitan yang ada, dan menjelaskannya secara lebih sederhana.
Sebelum ngalor ngidul ke mana-mana, saya ingin menyimpulkan beberapa hal dari postingan ini, yang pada intinya mengerucut pada:
- Uraikan hal-hal ke dalam komponen penyusunnya untuk memahaminya secara lebih baik, seperti dalam hal penguraian "diri", kereta, dan seterusnya. Pendekatan dekonstruksi ini juga relevan untuk membedah sistem yang rumit atau masalah yang menumpuk. Intinya, seperti diajarkan dalam perumpamaan kereta: jangan terjebak pada label, istilah, atau konvensi yang sering kali hanya menjadi selubung bagi komponen-komponen asli yang menyusunnya.
- Penilaian dari apa yang terlihat ada kalanya tidak bisa sepenuhnya diandalkan karena tidak selalu selaras dengan apa yang diniatkan, meskipun tentu asas-asas hukum duniawi tidak semata-mata didasarkan pada niat saja, bahwa mens rea saja tidak cukup tanpa pertimbangan actus reus. Dalam konteks bahasan di sini, seseorang yang telah terbebas dari pandangan 'diri kekal' tetap sah-sah saja menggunakan kata 'aku', 'diriku', atau 'milikku' (pronomina persona pertama) demi kelancaran komunikasi sehari-hari (kebenaran konvensional), tanpa sedikit pun melekat pada konsep tersebut sebagai kebenaran hakiki.
- Pintasan spiritual, bahkan pintasan dalam segala bidang, hanyalah pelarian dari apa yang sebenarnya terjadi, meskipun sifat mendasar manusia memang cenderung begitu. Berpura-pura ahli atau suci tidak akan menjadikan seseorang benar-benar demikian, sesederhana karena sebab-sebab yang mengondisikannya belum hadir. Sebaliknya, menyangkal emosi yang nyata (seperti menahan tangis) juga bentuk pengingkaran terhadap kondisi yang sedang terjadi. Keahlian dan pencapaian sejati tunduk pada hukum sebab-akibat: jika kondisinya tidak dibangun, hasilnya tidak akan ada. Tidak ada jalan pintas untuk memanipulasi realitas ini.


post a comment: